Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Aku harus pergi

By: Ruthy Shara Di kota Kupang ini mengawali langkahku untuk hidup jauh dari orang yang paling aku cinta dan aku sayangi orang tua. Meninggalkan mereka begitu berat dan begitu pun denganku, apakah aku bisa bertahan tanpa bimbingan, kasih sayang dan perhatian dari mereka. Berpikir sebelum bertindak sudah menjadi kebiasaanku. Ketika memutuskan untuk pergi dan mengawali perjalanan hidupku untuk beberapa tahun ke depan. Tinggal di kota Kupang ini. Aku selalu meminta pendapat dari orang tua, keluarga dan beberapa teman karibku. Ucapan selamat dan kebanyakan mereka bilang setuju untuk pergi ke kota Kupang ini. Tapi hanya seseorang yang tidak setuju untuk aku pergi ke sana, ibuku tidak menyetujui untuk aku pergi ke sana. Dengan pelukan hangat dan tangis air mata beliau bilang "Nak jangan pergi, kamu anak satu-satunya kami. Kalau kamu pergi kami akan kesepian dan siapa yang akan membantu kami dan kamu dengan sabarnya selalu menuruti perintah kami. Ibu mohon nak, jangan pergi". ...

Cinta bersemi di pantai Ena Gera

By: Ruthy Shara Sore itu tak seperti biasanya. Kala ini hujan tak mengguyur seperti saat pertama kali aku datang di tempat ini. Angin mengalun sendu dengan binar senja yang sayup. Aku menemuinya sedang duduk di tepi pantai menatap biru langit melingkar mengelilingi bumi. "Hei, sedang apa kau di sini?" Ini kali aku pertama menyapanya. Masih terdiam, dia sama sekali tak menghiraukanku. Namanya Lilis, seorang gadis desa yang memiliki paras cantik nan anggun. Dia juga salah satu siswa SMA favoritku di Mauponggo dan kata orang di sekitar rumahku Lilis adalah gadis yang paling banyak membuat pemuda tergila-gila padanya. Ya termasuk aku, haha Satu jam berlalu tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Entahlah, aku tak tahu apa yang dia sedang pikirkan. Matahari terus beranjak meninggalkan sore hari itu. Hari semakin menua namun aku melihat tanda-tanda Lilis akan pulang. "Lilis, kamu belum pulang? Ini sudah malam". Tanyaku mencoba memecah kebisuan. ...

Aku cuman rindu, itu saja

By: Ruthy Shara Januari yang lalu kau yakinkan aku sebuah harapan. Kau beri aku senyuman sehingga aku kembali ke duniaku. kau begitu menghangatkan hatiku berlumur hujan. Aku yang belum mencintaimu sepenuhnya tapi kini cintaku sudah untuk milikmu, tapi mengapa kau hantui lagi hatiku dengan kekecewaan. Dulu dirimu selalu ada kabar bahkan dirimu tak pernah henti bibirku tersenyum, kau yang selalu menelponku di saat aku rindu, kau yang selalu mengucapkan selamat malam sebelum aku tidur dan kau selalu mengiyakan apa mauku. Tapi kini perubahan mulai datang di saat awal tanggal, aku yang mengerti dengan dirimu. Kau terlihat biasa saja saat hatiku bertanya-tanya, aku tidak tahu perubahan yang tiba-tiba ini terjadi pada dirimu atau memang semua laki-laki seperti ini, bukankah dulu kau yang meyakinkan aku bahwa semua laki-laki itu tidak sama dan aku sendiri yang ingin membuktikannya tapi kenapa malah dirimu juga yang membuatku kembali meyakinkanku bahwa semua laki-laki itu sama hanya me...

Untuk kamu yang memiliki senyum manis

By: Ruthy Shara Kepada kamu, yang pertama kalinya kita bertemu. Surat ini adalah surat pertama yang ku tulis untukmu. Bukan untuk membuatmu menoleh padaku, hanya untuk pelipur gelisah. Surat ini adalah yang ku tulis diam-diam dan aku yakin kamu tak akan pernah membacanya. Masih lekat dalam ingatanku pertemuan pertama kita di pustu Oepoi. Bahkan lekuk senyummu masih terekam jelas. Adalah sesuatu yang patut di sayangkan jika aku melewatkan senyum itu. Perjumpaan kita bukanlah hal yang sering terjadi. Sapaan yang kau lontarkan ditambah senyum yang kau ukir juga bukan hal yang setiap hari ku temui. Kata "Kaka" nampak terasa lebih istimewa jika itu berasal darimu. Mungkin aku terlalu berlebihan, tapi perjumpaan kita adalah suatu kebijakan semesta yang patut disyukuri. Kamu tahu benar, selama ini tak ada satupun dari kita yang bisa benar-benar memulai pembicaraan. Kita hanya saling diam dan saling melemparkan pandangan. Lalu kamu dengan mudahnya melemparkan senyum yang ...

Surat cinta untuk mantan

By: Ruthy Shara "Untukmu yang selalu ku kenang Semoga kedatangan surat ini menjadi satu serpihan bahagia yang tak aku duga. Dan aku selalu berharap ketika mulai merangkaikan kata-kata di ujung pena  ini Bahwa, suratku ini tidak menjadi luka atau perih di hatimu. Sudah lama aku ingin menulis surat ini namun selalu gagal setiap kali aku memulainya Sebenarnya gampang seandainya kamu milikku Seperti dulu kita saling membagi cerita Kejar-kejaran sebagai anak SMA yang sedang mabuk cinta Berpegangan tangan saat pulang sekolah atau kebaisaanmu mencubit pipiku yang tambun menggemasnya dengan penuh suka cita Sambil tertawa memperhatikan aku meringis kesakitan Iya, itu dulu saat kita masih mengenakan seragam putih abu-abu Semoga kamu masih mengingat masa-masa itu Masa yang membuatku tertawa sendiri dan juga terharu Kadang aku menyesal mengapa waktu itu aku tidak mempertahankanmu untuk pergi dari hidupku Dan tujuan surat ini adalah menyampaikan kegagalan untuk terus menyaya...

Ungkapan rasa untuk Ayah

By: Ruthy Shara " Selamat malam Ayah Apa kiranya Ayah mengerti apa yang kini tengah membayangi pikiranku akhir-akhir ini? Hal yang membuatku menjadi sulit untuk sekedar memejamkan mata yang membuatku memaksa logika dan hati untuk membantuku menemukan jawabannya. Ku rasa, aku dapat menghitung berapa kali kita berbicara dalam lisan lewat indahnya kata-kata. Berapa kali Ayah memintaku untuk sekedar membantu membersihkan kandang babi. Berapa kali Ayah menyuruhku hanya membuatkanmu kopi panas sembari terbitnya matahari. Berapa kali kita tertawa karena cerita lucu yang aku buat dengan sengaja. Aku bisa Ayah, aku bisa menghitung dengan benar hanya dengan jari tanganku. Oh Tuhan, sedingin itukah kami? Ayah yang tak pandai bersuara lebih memilih diam, tak mudah dengan sengaja mengungkapkan apapun yang sedang Ayah rasakan dan yang sekiranya tengah mengganggu tidurmu. Ayah, sepertinya memang benar. Kalau buah jatuh tak akan pernah jauh dari pohonnya. Aku sama sepertimu, sangat...

SMAN 1 MAUPONGGO ALMAMATERKU

By: Ruthy Shara Di sekolah ini Telah tertoreh berjuta kenangan Sedih, tawa dan tangis menjadi cerita tersendiri Episode-episode mulai bergulir seiring zaman. Kini ku tatap kembali rautmu Bersimbah keriput lumut dan kusam Almamaterku, kau adalah harapan Darimu ku belajar tentang hidup dan  persahabatan Yang pastinya kau selalu ku kenang Aku akan ceritakan kisah-kisahmu kelak ketika anak-anakku bertanya.

Aemeo Kampung Tercintaku

By: Ruthy Shara Gemulai gerak langkah pasti Ku susuri ruang dan aku cermati Potret indah gemulai mempesona tiap sorotan yang menatap. Dulu yang dipandang acuh Tapi kini kau mekar bagai bunga Dulu yang dipandang anak tiri Tapi kini kau mengubah berjutah sanjungan. Ine, Ema, ka'e, Ari Itulah sapaan khas dikala saling bergurau Kadang tersenyum untuk berkumpul kembali Disanalah keberadaan istana ternyaman yang kami punya. Belajar sabar deri cekiknya musim Tanah yang masih di injak telapak surgaku Tanah yang menjadi alas hidup bagi orang yang ku sayang Aemeo, ku titip rindu dari jauh.

Rasa dalam diam

By: Ruthy Shara Apa yang harus ku ungkapkan atau mengakhirinya Cerita tentang kamu seperti sebuah naskah film yang tak pernah ku akhiri Tak pernah ku temukan episode akhirnya Aku menulis skenario yang tak pernah kehabisan kata untuk mendeskripsikan kamu Karena selalu ada cerita, selalu ada kisah yang tercipta tentang kamu Kamu bukan sosok sempurna tak secantik bias-bias ko. Kamu adalah kamu Dengan kesederhanaan yang kamu miliki aku menyukainya Aku menyukaimu meski aku tak mampu memprediksikan sampai kapan rasa dalam diam ini akan tetap bertahan. Aku menyukaimu walaupun kamu tak pernah tahu perasaanku Meski kamu tak tahu apa yang ku rasa, mencintaimu dalam diam seperti ujian rasa yang harus ku lewati. Kamu yang tersembunyi terlalu lama di hati Tapi bisakah kamu merasakan keberadaanku Atau haruskah aku hadir di hadapanmu dan luangkan segala rasa sesak mencintaimu. Supaya kamu menyadari ada hati yang lama menunggu Ada hati yang lelah atau bukan hari yang berputar de...

Cinta terpaksa berakhir

By: Ruthy Shara Langkah kaki perempuan itu menjauhi membelakangi lelaki tersebut. Saat hujan malam hari itu, perempuan tersebut menerobos butiran air yang jatuh menerpanya dan tidak peduli dengan lelaki yang ada di belakangnya. "Chandraaa,,," teriak lelaki itu. Tapi perempuan tersebut tetap saja berjalan semakin menjauh tanpa menengok sedikitpun. "chandraaa,,," teriak lelaki itu sekali lagi. Perempuan itu berhenti untuk beberapa detik, walaupun jarak yang sudah cukup jauh, tapi wanita itu masih mendengar teriakkan nyaringnya. Di tepi taman samping trotoar tersebut hanya ada dua orang di sana. Lampu jalan remang kekuningan menghiasi sedihnya suasana malam itu. Jalan sepi akan kendaraan yang melintas benar-benar sepi. Sejenak wanita itu meneteskan air mata membasahi pipi yang bercampur hujan. Berharap terhapus bersama air yang turun dari langit, agar tidak menyisakan kesdihan yang mendalam. Terakhir memandang lelaki tadi berdiri dengan wajah tidak percaya ...

Setetes Kenangan Di Pantai Ena Gera

By: Ruthy Shara Untukmu wahai melatiku Di sela-sela kerinduan yang ada dalam diriku Kau bagaikan sosok bidadari di musim semi Wajahmu di selimuti oleh indahnya kerudungmu yang ungu membuat jutaan orang terpaku menatapmu. Di sore itu ku menyapamu di bibir pantai Ena Gera Namun deraiyan gelombang begitu bersahabat dengan senyumanmu yang indah Wajahmu yang tanpa goresan kosmetik terlihat begitu indah bagaikan bunga melati tersiram embun pagi Kerudung ungu, haruskah aku menjadi semut merah yang kejam dan mendekatimu lalu mencubit kulit putihmu bagaikan salju itu menjadi merah melati Ya, wajahmu yang menggoda itu kini tertelan waktu. Oh Tuhan Kau telan lagi kerinduanmu di balik kerudung ungu Belum sempat mata ini memotretnya dalam ingatan Kembali ku raba bayangannya namun ingatanku terpaku pada khayalan Ku coba membujuk rasa yang tumbuh di dalam jiwa namun masih terpaku pada pemilik wajah yang indah Kembali ku mengadu pada daraiyan ombak namun ombak hanya memberikan sepe...

Antara kerinduan dan harapan

By: Ruthy Shara Malam kian larut. Kesunyian semakin mencengkram. Tapi mataku enggan terpejam dan lamunanku tersentak kala kudengar bunyi jam dinding di sudut kamarku berdetak seolah memberikan isyarat bahwa aku harus segera tidur. Kurebahkan tubuhku, kutarik selimut, kucoba untuk menutup mata. Tapi ah,, aku tak bisa. Entah apa yang sedang aku pikirkan, aku sendiri tak mengerti segala rasa yang datang menghampiri seakan terus menyapaku dalam setiap waktu. Dalam diam kucoba bertanya dalam hati. "inikah yang kurasakan?" Ya kutelah menemukannya. Sebersit rasa rindu yang selalu hadir dalam setiap kesendirianku. Rindu pada sosok yang telah bertahun-tahun lamanya tak aku jumpai. "Dimanakah dia? Itulah pertanyaan yang selalu hadir dalam pikiranku. Tak kala kuingat kembali saat kita terakhir bersua untuk saling memandang dan saling berjabat. Perlahan suara terdengar datar penuh harap dan cemas serta sejuta rasa berkecamuk. Akankah sua itu bisa terulang kembali? Ya Tuhan,...

Selamat Hari Minggu

By: Ruthy Shara Pagi merambat pada jendela kamar Menyentuh halus dilelap mata yang masih bengkak Weker hanya diam, dia tahu mata tak ingin bangun Belum cukup semalam termenung. Selama bantal masih setia temani mimpi indah Telinganya tak rela mendengarkan jeritan luka Entah buta atau kenapa, matanya tak melihat mendung Mungkin lupa ini minggu. Haruskah ucapkan pada hari untuk memeluknya Matahari pagi nan terik Seakan menertawakan yang masih pada mimpinya Bangunkan tubuh berbaring di balik selimut. Bubar segala hayalan Musnah segala harapan Hanya hari yang sendiri dengan luka belum terobat Mata yang masih bengkak di temani mimpi indah Semangat pagi Minggu.

Mauponggo dalam balutan rindu

By: Ruthy Shara Dua tahun yang lalu Di sudut kota kecil Ku sapa Mathilda dengan bahasa semesta. Malam ini.. Meski musim telah berganti kulit Masih tetap ku kenal wajahnya Bahakan bekas luka di keningnya masih terlihat jelas. Kini.. Lewat celah mimpi yang suram Aku kembali ke Mauponggo Menyusuri lereng-lereng bukit Wolosambi yang indah Ku cari jejak-jejak rasa yang pernah ada Ke sawah-sawah Mau keo yang hijau Ku titipkan rinduku pada padi muda berseri Pada air kali Mau wayu yang jernih Ku tanyakan kisahku yang pernah mengalir Di sepanjang pasir putih Ena gera Ku tulis nama dengan aksara surga Pada puncak gunung Ebu lobo Ku teriak kepada langit agar membawamu kembali. Akhirnya.. Di pintu masuk kampung Maukeli Ku baca beribu-ribu harapan Tepat di depanku Telah ku temukan dirinya Gereja St. Michael Maukeli penuh kemegahan.

Rindu dan kenangan

By: Ruthy Shara Senandung kesunyian Di tengah keheningan Lembut mengalun sendu Meresap ke dalam kalbu. Tersiratlah di angan Bayang-bayang kenangan Lukisan masa lalu Yang indah bermanis madu. Kabut rindu kian mengharu biru Menyelimuti suasana hatiku Menggiring anganku kembali pulang Ke masa silam yang selalu terkenang. Rintik gerimispun menjadi hujan Menghanyutkan ku ke dalam lamunan Masah indah yang penuh wangi bunga Yang pernah terkisah saat dulu kala. Kini tinggal kenangan Di lembar kesunyian Waktu terus berlalu Rindu tinggallah rindu.

Cinta tak harus memiliki

By: Ruthy Shara Jantungku kemudian belajar untuk tak lagi berdegup kencang Mataku belajar untuk tak lagi memandang padamu Rindu kini hanya sekali Tapi hatiku masih menetap di satu hati yaitu kamu. Cinta memang tak pernah salah Yang salah adalah aku yang membiarkan rasa ini tetap ada Hingga hanya angan yang membuat kita bersatu. Akulah senja yang tak bisa menggapaimu Menggenggam tangan saat kakimu mulai lelah untuk melangkah Perihal ini aku kemudian belajar Bahwa cinta hanya sebatas angan dan kamu adalah halusinasi ku Kita hanyalah sebuah kata yang tak akan pernah bersatu. Akulah senja yang akan memberimu keindahan, kedamaian dan ketenangan saat kamu penat Dan aku akan menghilang tergantikan oleh malam Cintaku melepaskanmu dengan tulusku Seperti sebuah lilin yang rela terbakar untuk menerangi. Kamu adalah takdir bagi orang lain bukan untuk diriku Rinduku mungkin hanya sesekali Kemudian tergantikan oleh rindu yang lebih kamu inginkan Cintaku tak terbaca Sebab ...

Pena temani rinduku

By: Ruthy Shara Ku ayunkan penaku di selembar kertas Ku tuliskan bait demi bait keluh kesahku Ungkapan rasa rinduku untuk bertemu Kita memang terpisah oleh jarak dan waktu. Terpisah karena perjuangan Terpisah oleh penantian Rinduku teramat besar Sebesar cintaku padamu Namun aku mampu untuk bertahan Karena rindu ini akan mekar pada waktunya Biarkan rindu ini semakin menggebu Agar dipertemun kita nanti rindumu dan rinduku akan bersatu. Penuh cinta Penuh kasih sayang Penuh kebahagiaan Dan abadi selamanya Biarkan kali ini rinduku bersama dengan sajak penaku.

Unwira kampus tercintaku

By: Ruthy Shara Ketika aku merasa gunda Masa depan apa yang ada di depanku Melihat setiap orang melangkah maju Mengejar hidup berpacu dengan waktu. Aku tahu kau butuh sesuatu yang dapat menenangkanku Menenangkan diri dari ketatnya persaingan hidup Dari banyaknya universitas yang mampu memberikan itu Dan hanya Unwira yang mampu mengerti perasaanku Memberi bekal sebagai modal Tak hanya keahlian dan pengetahuan Tapi pertemanan dan persahabatan Teruslah seperti itu Oh, Unwira kamulah Kampus Tercintaku.

Mauponggo tanah kelahiranku

By: Ruthy Shara Selamat datang di tanah kelahiranku Yang di himpun bukit-bukit yang indah saat di pandang kasat mata Dan aroma bunga cengkeh sepanjang jalan. Tanah kelahiranku Tanah tumpah darahku Di kota kecil yang indah Sekalipun kami beranjak pergi Namun tanah Mauponggo tempat yang terindah dan paling dirindukan. Tanahku Mauponggo Hamparan sawah luas membentang di sana Lekap padi tua berdiri merunduk Suara gesekan pohon bambu berdering. Tanahku Mauponggo Yang tak akan pernah kalah terkenal dengan yang lain Pada waktu yang akan datang Kami akan merindukan itu Sejauh manapun kami pergi Sebanyak apapun kami melangkahkan kaki Kami tak pernah bisa berdiam diri Selalu menyisipkan waktu untuk kembali Sekedar bercerita dan berbagai Tak peduli senang ataupun sedih Setidaknya dapat mengusir perih di dada ini. Sesekali mari menginjak kaki di tanah kelahiranku, Mauponggo Dan duduklah sambil minum kopi Flores yang di seduh nona manis Mauponggo Dan aku hanya ingin...

Adik bungsuku

By: Ruthy Shara Engkau adalah seorang perempuan yang harus hidup dalam rusaknya zaman Generasi yang mulai hilang harga diri dengan bayangan surga palsu. Wahai adik perempuanku Ini adalah  zaman kakak berpijak Moral yang kini telah rusak Sedangkan engkau kini masih dalam timbangan ibunda. Wahai adik perempuanku Tantanganmu akan semakin berat Jagalah diri agar tak tersesat Jika kelak nanti engkau remaja Jadilah wanita yang tegas menghadapi dunia Jawablah semua tantangan zaman dengan berkat ketakwaan dan iman Jangan pernah malu kepada mereka Walaupun mungkin mereka bilang engkau berbeda. Ingat pesanku Ingat nasihatku Ku titipkan pesan ini lewat dunia maya Berharap suatu saat engkau membacanya.

Fany, Rintihan Pilu

By: Ruthy Shara Fany Demikian sapaan manjanya Lembaran hidupnya kian hari kian ringkih Ia menangis seorang diri Mengadu pilu pada pusara ibunya. Saat senja letih di atas pangkuan kasih tak bertuan Setidaknya ia sedang rindu akan kasih seorang ibu Sejenak menoreh kisah, ibunya gegas pulang Pulang saat usianya balita. Rintihan pilu menderu Tangisan memecah heningnya pada salib bisu yang tertanam dekat pusara ibunya. Saat kata tak lagi bersuara Untuk membendung segala kerinduannya Larik majas bertatih-tatih dari mulutnya yang gusar Mohon, agar ibunya mendapat surga tempat yang selayaknya.

Ke Bukit Wolobobo, Sayang

By: Ruthy Shara Kapan-kapan ku ajak engkau ke sini, sayang Ke bukit ini, bukit Wolobobo Pas-pasan parasnya kalau tidak disebut buruk rupa Tapi ku jamin bakal tersiksa oleh sebuah rasa Yang engkau pahami itu adalah rasa yang tak nyeri. Ke sinilah sayang, duduk bersamaku Engkau dan aku menikmati cinta dalam keindahan sebenar-benarnya Dalam sebuah rentang jarak kehidupan bagai berada di luar bumi Jiwamu dan jiwaku dielus-elus oleh tangan Tuhan. Bukit ini buruk rupa Kabut dan dingin menerpa tubuh Tapi memberi kita nyawa untuk sejenak istrahat Sambil berpasrah dari pada kelam yang jauh dan pada luka yang pilu Dalam hati yang tercabik-cabik oleh pergulatan selama perjalanan di dunia ini. Di atas bukit ini Senja membayu dalam roh rekonsiliasi Damai di langit merembes ke bumi merasuki hati. Kesinilah sayang, ke bukit ini Menghela nafas melepas lelah Meredakan dendam-dendam masa lalu Walaupun hari-hari yang panjang berliku-liku Dalam Kilauan senja mencumbu malam En...

Separuh jiwaku di bu'e Gelu

By: Ruthy Shara Namamu masih tersimpan di galaksi hati ini Tersimpan di antara semesta jiwa Kian melekat terpampang erat Sepanjang jalan kenangan yang ku lalui Ku rasakan hadirmu masih menyertai. Jika ku mendengar suara lubuk hati yang terdalam Sejujurnya ku akui Aku masih menyimpan rasa Meski kini kau telah berdua Hati dan perasaan masih sama Tak akan memudar terhapus masa Walau kita tak lagi bersama. Selalu bayangmu tersimpan dalam jiwa Meski kini semua telah berbeda Saat di mana telah pergi Tak akan ku biarkan rasa ini mati Biarkan terus bersandar di hati Walau hanya dapat ku memiliki dalam mimpi. Biarkan aku selalu tersesat dalam ilusi Karena cinta tak selalu harus memiliki.

Cintaku Untuk Nagekeo

By: Ruthy Shara Nagekeo, aku datang lagi Menyapamu dengan sepenuh hati Andai aku tahu, Nagekeo Betapa aku jatuh cinta Bahakan sejak pertama kali kita berjumpa. Nagekeo, jangan kau tanya kenapa karena aku tidak tahu Yang ku tahu hanyalah kesederhanaanmu, keramahanmu, kehangatanmu sekaligus ketegaranmu. Padang Sabana dan kumpulan domba-domba hanyalah sebagian alasan aku mencintaimu Begitu juga dengan tumpukkan bukit menjulang dan pantai-pantai panjang menghampar. Namun ku akui, aku tak mampu enyahkan bayangan bupu ga'e dan ema Ka'e dengan sirih pinang Dan anak-anak itu yang menerjang bukit dan belantara Karena hanya untuk menjumpai guru-guru mereka. Guru-guru mereka yang sejuknya seperti air bening penghilang dahaga Yang kemampuan membawa kuas untuk melukis jiwa dan pelangi penuh warna. Namun sekali lagi, semuanya itu hanyalah sebagian alasan kenapa aku mencintaimu. Selebihnya aku tahu Nagekeo, aku hanya ingin kau paham betapa ku cinta kau apa adanya B...