Langsung ke konten utama

Mauponggo tanah kelahiranku

By: Ruthy Shara

Selamat datang di tanah kelahiranku
Yang di himpun bukit-bukit yang indah saat di pandang kasat mata
Dan aroma bunga cengkeh sepanjang jalan.

Tanah kelahiranku
Tanah tumpah darahku
Di kota kecil yang indah
Sekalipun kami beranjak pergi
Namun tanah Mauponggo tempat yang terindah dan paling dirindukan.

Tanahku Mauponggo
Hamparan sawah luas membentang di sana
Lekap padi tua berdiri merunduk
Suara gesekan pohon bambu berdering.

Tanahku Mauponggo
Yang tak akan pernah kalah terkenal dengan yang lain
Pada waktu yang akan datang
Kami akan merindukan itu
Sejauh manapun kami pergi
Sebanyak apapun kami melangkahkan kaki
Kami tak pernah bisa berdiam diri
Selalu menyisipkan waktu untuk kembali
Sekedar bercerita dan berbagai
Tak peduli senang ataupun sedih
Setidaknya dapat mengusir perih di dada ini.

Sesekali mari menginjak kaki di tanah kelahiranku, Mauponggo
Dan duduklah sambil minum kopi Flores yang di seduh nona manis Mauponggo
Dan aku hanya ingin memastikan
Jika sudah datang jangan lupa kembali pulang
Sebab, tanahku Mauponggo seakan selalu dirindukan karena keindahannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ungkapan rasa untuk Ayah

By: Ruthy Shara " Selamat malam Ayah Apa kiranya Ayah mengerti apa yang kini tengah membayangi pikiranku akhir-akhir ini? Hal yang membuatku menjadi sulit untuk sekedar memejamkan mata yang membuatku memaksa logika dan hati untuk membantuku menemukan jawabannya. Ku rasa, aku dapat menghitung berapa kali kita berbicara dalam lisan lewat indahnya kata-kata. Berapa kali Ayah memintaku untuk sekedar membantu membersihkan kandang babi. Berapa kali Ayah menyuruhku hanya membuatkanmu kopi panas sembari terbitnya matahari. Berapa kali kita tertawa karena cerita lucu yang aku buat dengan sengaja. Aku bisa Ayah, aku bisa menghitung dengan benar hanya dengan jari tanganku. Oh Tuhan, sedingin itukah kami? Ayah yang tak pandai bersuara lebih memilih diam, tak mudah dengan sengaja mengungkapkan apapun yang sedang Ayah rasakan dan yang sekiranya tengah mengganggu tidurmu. Ayah, sepertinya memang benar. Kalau buah jatuh tak akan pernah jauh dari pohonnya. Aku sama sepertimu, sangat...

Untuk kamu yang memiliki senyum manis

By: Ruthy Shara Kepada kamu, yang pertama kalinya kita bertemu. Surat ini adalah surat pertama yang ku tulis untukmu. Bukan untuk membuatmu menoleh padaku, hanya untuk pelipur gelisah. Surat ini adalah yang ku tulis diam-diam dan aku yakin kamu tak akan pernah membacanya. Masih lekat dalam ingatanku pertemuan pertama kita di pustu Oepoi. Bahkan lekuk senyummu masih terekam jelas. Adalah sesuatu yang patut di sayangkan jika aku melewatkan senyum itu. Perjumpaan kita bukanlah hal yang sering terjadi. Sapaan yang kau lontarkan ditambah senyum yang kau ukir juga bukan hal yang setiap hari ku temui. Kata "Kaka" nampak terasa lebih istimewa jika itu berasal darimu. Mungkin aku terlalu berlebihan, tapi perjumpaan kita adalah suatu kebijakan semesta yang patut disyukuri. Kamu tahu benar, selama ini tak ada satupun dari kita yang bisa benar-benar memulai pembicaraan. Kita hanya saling diam dan saling melemparkan pandangan. Lalu kamu dengan mudahnya melemparkan senyum yang ...

Separuh jiwaku di bu'e Gelu

By: Ruthy Shara Namamu masih tersimpan di galaksi hati ini Tersimpan di antara semesta jiwa Kian melekat terpampang erat Sepanjang jalan kenangan yang ku lalui Ku rasakan hadirmu masih menyertai. Jika ku mendengar suara lubuk hati yang terdalam Sejujurnya ku akui Aku masih menyimpan rasa Meski kini kau telah berdua Hati dan perasaan masih sama Tak akan memudar terhapus masa Walau kita tak lagi bersama. Selalu bayangmu tersimpan dalam jiwa Meski kini semua telah berbeda Saat di mana telah pergi Tak akan ku biarkan rasa ini mati Biarkan terus bersandar di hati Walau hanya dapat ku memiliki dalam mimpi. Biarkan aku selalu tersesat dalam ilusi Karena cinta tak selalu harus memiliki.