By: Ruthy Shara
Untukmu wahai melatiku
Di sela-sela kerinduan yang ada dalam diriku
Kau bagaikan sosok bidadari di musim semi
Wajahmu di selimuti oleh indahnya kerudungmu yang ungu membuat jutaan orang terpaku menatapmu.
Di sore itu ku menyapamu di bibir pantai Ena Gera
Namun deraiyan gelombang begitu bersahabat dengan senyumanmu yang indah
Wajahmu yang tanpa goresan kosmetik terlihat begitu indah bagaikan bunga melati tersiram embun pagi
Kerudung ungu, haruskah aku menjadi semut merah yang kejam dan mendekatimu lalu mencubit kulit putihmu bagaikan salju itu menjadi merah melati
Ya, wajahmu yang menggoda itu kini tertelan waktu.
Oh Tuhan
Kau telan lagi kerinduanmu di balik kerudung ungu
Belum sempat mata ini memotretnya dalam ingatan
Kembali ku raba bayangannya namun ingatanku terpaku pada khayalan
Ku coba membujuk rasa yang tumbuh di dalam jiwa namun masih terpaku pada pemilik wajah yang indah
Kembali ku mengadu pada daraiyan ombak namun ombak hanya memberikan sepercik kenangan.
Untukmu wahai melatiku
Di sela-sela kerinduan yang ada dalam diriku
Kau bagaikan sosok bidadari di musim semi
Wajahmu di selimuti oleh indahnya kerudungmu yang ungu membuat jutaan orang terpaku menatapmu.
Di sore itu ku menyapamu di bibir pantai Ena Gera
Namun deraiyan gelombang begitu bersahabat dengan senyumanmu yang indah
Wajahmu yang tanpa goresan kosmetik terlihat begitu indah bagaikan bunga melati tersiram embun pagi
Kerudung ungu, haruskah aku menjadi semut merah yang kejam dan mendekatimu lalu mencubit kulit putihmu bagaikan salju itu menjadi merah melati
Ya, wajahmu yang menggoda itu kini tertelan waktu.
Oh Tuhan
Kau telan lagi kerinduanmu di balik kerudung ungu
Belum sempat mata ini memotretnya dalam ingatan
Kembali ku raba bayangannya namun ingatanku terpaku pada khayalan
Ku coba membujuk rasa yang tumbuh di dalam jiwa namun masih terpaku pada pemilik wajah yang indah
Kembali ku mengadu pada daraiyan ombak namun ombak hanya memberikan sepercik kenangan.

Komentar
Posting Komentar