By: Ruthy Shara
Kapan-kapan ku ajak engkau ke sini, sayang
Ke bukit ini, bukit Wolobobo
Pas-pasan parasnya kalau tidak disebut buruk rupa
Tapi ku jamin bakal tersiksa oleh sebuah rasa
Yang engkau pahami itu adalah rasa yang tak nyeri.
Ke sinilah sayang, duduk bersamaku
Engkau dan aku menikmati cinta dalam keindahan sebenar-benarnya
Dalam sebuah rentang jarak kehidupan bagai berada di luar bumi
Jiwamu dan jiwaku dielus-elus oleh tangan Tuhan.
Bukit ini buruk rupa
Kabut dan dingin menerpa tubuh
Tapi memberi kita nyawa untuk sejenak istrahat
Sambil berpasrah dari pada kelam yang jauh dan pada luka yang pilu
Dalam hati yang tercabik-cabik oleh pergulatan selama perjalanan di dunia ini.
Di atas bukit ini
Senja membayu dalam roh rekonsiliasi
Damai di langit merembes ke bumi merasuki hati.
Kesinilah sayang, ke bukit ini
Menghela nafas melepas lelah
Meredakan dendam-dendam masa lalu
Walaupun hari-hari yang panjang berliku-liku
Dalam Kilauan senja mencumbu malam
Entah musim kemarau atau musim hujan bukit ini tetap di sini
Menyapa setiap makhluk yang datang sebentar lalu pergi lagi.
Kapan-kapan ku ajak engkau ke bukit ini, sayang
Untuk menghirup hembusannya tentang sebuah warta lantang
Bahwa engkau dan aku tidak sedang bertempat tetap di sini
Sejauh-jauh masa depan kita hanyalah melakukan perjalanan
Untuk hanya menjadi tua dan mati menuju kepada keabadian.
Di bukit ini, bukit Wolobobo
Engkau menatap Ine Rie
Mungkin engkau pikir dalam kisah kitab perjanjian lama
Dimana cinta tergoda berakhir duka
Bukan-bukan, ini bukan taman Eden memang serupa tapi tidak persis sama
Bukit ini selalu menjelma cinta
Mengakar serabut ke dalam rahim tanah Bajawa bertumpah darah
Tak akan terlupakan sepanjang hayat
Begitu engkau menatap dan menjamahnya.
Kapan-kapan ku ajak engkau ke sini, sayang
Ke bukit ini, bukit Wolobobo
Pas-pasan parasnya kalau tidak disebut buruk rupa
Tapi ku jamin bakal tersiksa oleh sebuah rasa
Yang engkau pahami itu adalah rasa yang tak nyeri.
Ke sinilah sayang, duduk bersamaku
Engkau dan aku menikmati cinta dalam keindahan sebenar-benarnya
Dalam sebuah rentang jarak kehidupan bagai berada di luar bumi
Jiwamu dan jiwaku dielus-elus oleh tangan Tuhan.
Bukit ini buruk rupa
Kabut dan dingin menerpa tubuh
Tapi memberi kita nyawa untuk sejenak istrahat
Sambil berpasrah dari pada kelam yang jauh dan pada luka yang pilu
Dalam hati yang tercabik-cabik oleh pergulatan selama perjalanan di dunia ini.
Di atas bukit ini
Senja membayu dalam roh rekonsiliasi
Damai di langit merembes ke bumi merasuki hati.
Kesinilah sayang, ke bukit ini
Menghela nafas melepas lelah
Meredakan dendam-dendam masa lalu
Walaupun hari-hari yang panjang berliku-liku
Dalam Kilauan senja mencumbu malam
Entah musim kemarau atau musim hujan bukit ini tetap di sini
Menyapa setiap makhluk yang datang sebentar lalu pergi lagi.
Kapan-kapan ku ajak engkau ke bukit ini, sayang
Untuk menghirup hembusannya tentang sebuah warta lantang
Bahwa engkau dan aku tidak sedang bertempat tetap di sini
Sejauh-jauh masa depan kita hanyalah melakukan perjalanan
Untuk hanya menjadi tua dan mati menuju kepada keabadian.
Di bukit ini, bukit Wolobobo
Engkau menatap Ine Rie
Mungkin engkau pikir dalam kisah kitab perjanjian lama
Dimana cinta tergoda berakhir duka
Bukan-bukan, ini bukan taman Eden memang serupa tapi tidak persis sama
Bukit ini selalu menjelma cinta
Mengakar serabut ke dalam rahim tanah Bajawa bertumpah darah
Tak akan terlupakan sepanjang hayat
Begitu engkau menatap dan menjamahnya.

Komentar
Posting Komentar