Langsung ke konten utama

Cinta bersemi di pantai Ena Gera

By: Ruthy Shara

Sore itu tak seperti biasanya. Kala ini hujan tak mengguyur seperti saat pertama kali aku datang di tempat ini. Angin mengalun sendu dengan binar senja yang sayup. Aku menemuinya sedang duduk di tepi pantai menatap biru langit melingkar mengelilingi bumi.

"Hei, sedang apa kau di sini?" Ini kali aku pertama menyapanya.
Masih terdiam, dia sama sekali tak menghiraukanku.

Namanya Lilis, seorang gadis desa yang memiliki paras cantik nan anggun. Dia juga salah satu siswa SMA favoritku di Mauponggo dan kata orang di sekitar rumahku Lilis adalah gadis yang paling banyak membuat pemuda tergila-gila padanya. Ya termasuk aku, haha

Satu jam berlalu tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Entahlah, aku tak tahu apa yang dia sedang pikirkan. Matahari terus beranjak meninggalkan sore hari itu. Hari semakin menua namun aku melihat tanda-tanda Lilis akan pulang.

"Lilis, kamu belum pulang? Ini sudah malam". Tanyaku mencoba memecah kebisuan.
"Aku masih mau di sini". Katanya dari mulutnya terdengar suara yang sendu meneduhkan batinku.
"Tapi ini sudah malam" jawabku lagi
"Kamu tidak takut di sini? nanti kamu di cari orang tuamu".
"Kan ada kamu" jawabnya. Aku sontak terkaget mengapa dia tiba-tiba berkata seperti itu. Ucapannya sederhana tapi mengisyaratkan beribu makna bagi orang yang sedang jatuh cinta. Mungkin bagi orang lain bisa saja tapi bagiku menyimpan makna harapan di baliknya. Bahwa dengan keberadaanku di situ membuat Lilis merasa terjaga. Dia tidak perlu takut kepada siapa-siapa sembari mencoba menenangkan detak nakal jantungku. Aku melanjutkan percakapan yang sempat terhenti beberapa menit.
"Maksudnya, kamu mau aku temanimu di sini?"
"Iya" katanya sambil tersenyum. Aku pun langsung mendekat dan memegang kedua tangannya.
"Lilis aku sayang sama kamu, mau ka kamu jadi pacarku?". Seketika itu juga pelukkan hangatnya menerpa di tubuhku dan dia pun menjawab agak sedikit tersentak. "Aku juga sayang sama kamu".
----

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ungkapan rasa untuk Ayah

By: Ruthy Shara " Selamat malam Ayah Apa kiranya Ayah mengerti apa yang kini tengah membayangi pikiranku akhir-akhir ini? Hal yang membuatku menjadi sulit untuk sekedar memejamkan mata yang membuatku memaksa logika dan hati untuk membantuku menemukan jawabannya. Ku rasa, aku dapat menghitung berapa kali kita berbicara dalam lisan lewat indahnya kata-kata. Berapa kali Ayah memintaku untuk sekedar membantu membersihkan kandang babi. Berapa kali Ayah menyuruhku hanya membuatkanmu kopi panas sembari terbitnya matahari. Berapa kali kita tertawa karena cerita lucu yang aku buat dengan sengaja. Aku bisa Ayah, aku bisa menghitung dengan benar hanya dengan jari tanganku. Oh Tuhan, sedingin itukah kami? Ayah yang tak pandai bersuara lebih memilih diam, tak mudah dengan sengaja mengungkapkan apapun yang sedang Ayah rasakan dan yang sekiranya tengah mengganggu tidurmu. Ayah, sepertinya memang benar. Kalau buah jatuh tak akan pernah jauh dari pohonnya. Aku sama sepertimu, sangat...

Untuk kamu yang memiliki senyum manis

By: Ruthy Shara Kepada kamu, yang pertama kalinya kita bertemu. Surat ini adalah surat pertama yang ku tulis untukmu. Bukan untuk membuatmu menoleh padaku, hanya untuk pelipur gelisah. Surat ini adalah yang ku tulis diam-diam dan aku yakin kamu tak akan pernah membacanya. Masih lekat dalam ingatanku pertemuan pertama kita di pustu Oepoi. Bahkan lekuk senyummu masih terekam jelas. Adalah sesuatu yang patut di sayangkan jika aku melewatkan senyum itu. Perjumpaan kita bukanlah hal yang sering terjadi. Sapaan yang kau lontarkan ditambah senyum yang kau ukir juga bukan hal yang setiap hari ku temui. Kata "Kaka" nampak terasa lebih istimewa jika itu berasal darimu. Mungkin aku terlalu berlebihan, tapi perjumpaan kita adalah suatu kebijakan semesta yang patut disyukuri. Kamu tahu benar, selama ini tak ada satupun dari kita yang bisa benar-benar memulai pembicaraan. Kita hanya saling diam dan saling melemparkan pandangan. Lalu kamu dengan mudahnya melemparkan senyum yang ...

Separuh jiwaku di bu'e Gelu

By: Ruthy Shara Namamu masih tersimpan di galaksi hati ini Tersimpan di antara semesta jiwa Kian melekat terpampang erat Sepanjang jalan kenangan yang ku lalui Ku rasakan hadirmu masih menyertai. Jika ku mendengar suara lubuk hati yang terdalam Sejujurnya ku akui Aku masih menyimpan rasa Meski kini kau telah berdua Hati dan perasaan masih sama Tak akan memudar terhapus masa Walau kita tak lagi bersama. Selalu bayangmu tersimpan dalam jiwa Meski kini semua telah berbeda Saat di mana telah pergi Tak akan ku biarkan rasa ini mati Biarkan terus bersandar di hati Walau hanya dapat ku memiliki dalam mimpi. Biarkan aku selalu tersesat dalam ilusi Karena cinta tak selalu harus memiliki.