By: Ruthy Shara
Januari yang lalu kau yakinkan aku sebuah harapan. Kau beri aku senyuman sehingga aku kembali ke duniaku. kau begitu menghangatkan hatiku berlumur hujan. Aku yang belum mencintaimu sepenuhnya tapi kini cintaku sudah untuk milikmu, tapi mengapa kau hantui lagi hatiku dengan kekecewaan.
Dulu dirimu selalu ada kabar bahkan dirimu tak pernah henti bibirku tersenyum, kau yang selalu menelponku di saat aku rindu, kau yang selalu mengucapkan selamat malam sebelum aku tidur dan kau selalu mengiyakan apa mauku.
Tapi kini perubahan mulai datang di saat awal tanggal, aku yang mengerti dengan dirimu.
Kau terlihat biasa saja saat hatiku bertanya-tanya, aku tidak tahu perubahan yang tiba-tiba ini terjadi pada dirimu atau memang semua laki-laki seperti ini, bukankah dulu kau yang meyakinkan aku bahwa semua laki-laki itu tidak sama dan aku sendiri yang ingin membuktikannya tapi kenapa malah dirimu juga yang membuatku kembali meyakinkanku bahwa semua laki-laki itu sama hanya memainkan perasaan wanita saja.
Di saat hatiku sudah tidak sanggup lagi melihat perubahannya, aku bertanya kepadanya melalui telepon.
"Sayang kenapa?" Tanyaku dengan pelan.
"Kenapa apanya? Ada apa?" Tanyaku lagi.
Aku pun diam dengar jawabannya.
Hari demi hari pertanyaan itu selalu ku pertanyakan dan jawabnya selalu seperti itu. "Tida apa-apa"
Aku tidak tahu lagi harus bicara apa, aku sudah terlanjur mencintainya, tapi hatiku sudah terlalu rapuh untuk mengatakan kepadanya.
Hari-hari pun terlewati, Sabtu sore aku bertanya kepadanya.
"Sayang nanti malam kalau ada waktu datang ke sini ya". Tanyaku kepadanya.
"Tidak bisa, tidak apa-apa kan, Sayang?" Jawabnya dengan cuek lagi.
"Kenapa Sayang?" Tanyaku lagi dengan hati kecewa.
"Tidak ada motor, motor saya rusak" Jawabnya.
"Oh...iya Sayang, tidak apa-apa" Jawabku lagi.
Waktu pun sudah mendekati satu bulan kami pacaran, tapi dirinya tidak ada kabar seharian. Pikirku dia ingin memberi kejutan karena hari jadi kami genap sebulan, tetapi nyatanya dia memang tidak mau menghubungiku.
Aku tidak sengaja lihat-lihat dan melike foto-foto orang tanpa dia mengabariku sehari.
Hatiku bertanya-tanya lagi, dan aku memulai menanyakan kabarnya.
"Sayang kok tidak ada kabar?" Tanyaku padanya.
"Selama ini aku sibuk, Sayang" Jawabnya.
"Oh iya Sayang" jawabku dengan hati kecewa karena dia aktif tanpa mengabariku seharian.
Aku di sini mulai berpikir ternyata dia lebih mementingkan dunia maya daripada aku. Aku sedih, aku kecewa aku tidak tahu lagi, pipiku penuhi dengan deraiyan air mata.
Dia hanya membutuhkan bukan menginginkan.
Sabtu sore datang lagi, aku menunggu kabarnya lagi. Aku berharap dia akan menemuiku karena kami sudah dua minggu tidak bertemu. Aku menungguinya sampai aku tertidur.
Aku bangun pagi hari dan melihat hp ku ternyata dia tidak ada menghubungiku. Aku sedih dan aku menangisi lagi.
Mungkin dia sudah lelah, atau sudah tidak ingin lagi bertemu dengan diriku. Padahal aku ingin berbisik padanya "Aku rindu, itu saja". Tapi ya sudahlah, mungkin saja dia memang sibuk dan tidak bisa untuk menjumpai ku saat ini.
Teruntukmu kekasihku, banyak yang ingin ku ceritakan kepadamu. Terutama aku ingin merayakan rindu bersamamu. Jika dirimu tidak ingin lagi menemaniku, tidak apa-apa. Jangan khawatir diriku selalu mendoakanmu.
Januari yang lalu kau yakinkan aku sebuah harapan. Kau beri aku senyuman sehingga aku kembali ke duniaku. kau begitu menghangatkan hatiku berlumur hujan. Aku yang belum mencintaimu sepenuhnya tapi kini cintaku sudah untuk milikmu, tapi mengapa kau hantui lagi hatiku dengan kekecewaan.
Dulu dirimu selalu ada kabar bahkan dirimu tak pernah henti bibirku tersenyum, kau yang selalu menelponku di saat aku rindu, kau yang selalu mengucapkan selamat malam sebelum aku tidur dan kau selalu mengiyakan apa mauku.
Tapi kini perubahan mulai datang di saat awal tanggal, aku yang mengerti dengan dirimu.
Kau terlihat biasa saja saat hatiku bertanya-tanya, aku tidak tahu perubahan yang tiba-tiba ini terjadi pada dirimu atau memang semua laki-laki seperti ini, bukankah dulu kau yang meyakinkan aku bahwa semua laki-laki itu tidak sama dan aku sendiri yang ingin membuktikannya tapi kenapa malah dirimu juga yang membuatku kembali meyakinkanku bahwa semua laki-laki itu sama hanya memainkan perasaan wanita saja.
Di saat hatiku sudah tidak sanggup lagi melihat perubahannya, aku bertanya kepadanya melalui telepon.
"Sayang kenapa?" Tanyaku dengan pelan.
"Kenapa apanya? Ada apa?" Tanyaku lagi.
- "Tidak ada apa-apa", Jawabnya dengan cuek.
Aku pun diam dengar jawabannya.
Hari demi hari pertanyaan itu selalu ku pertanyakan dan jawabnya selalu seperti itu. "Tida apa-apa"
Aku tidak tahu lagi harus bicara apa, aku sudah terlanjur mencintainya, tapi hatiku sudah terlalu rapuh untuk mengatakan kepadanya.
Hari-hari pun terlewati, Sabtu sore aku bertanya kepadanya.
"Sayang nanti malam kalau ada waktu datang ke sini ya". Tanyaku kepadanya.
"Tidak bisa, tidak apa-apa kan, Sayang?" Jawabnya dengan cuek lagi.
"Kenapa Sayang?" Tanyaku lagi dengan hati kecewa.
"Tidak ada motor, motor saya rusak" Jawabnya.
"Oh...iya Sayang, tidak apa-apa" Jawabku lagi.
Waktu pun sudah mendekati satu bulan kami pacaran, tapi dirinya tidak ada kabar seharian. Pikirku dia ingin memberi kejutan karena hari jadi kami genap sebulan, tetapi nyatanya dia memang tidak mau menghubungiku.
Aku tidak sengaja lihat-lihat dan melike foto-foto orang tanpa dia mengabariku sehari.
Hatiku bertanya-tanya lagi, dan aku memulai menanyakan kabarnya.
"Sayang kok tidak ada kabar?" Tanyaku padanya.
"Selama ini aku sibuk, Sayang" Jawabnya.
"Oh iya Sayang" jawabku dengan hati kecewa karena dia aktif tanpa mengabariku seharian.
Aku di sini mulai berpikir ternyata dia lebih mementingkan dunia maya daripada aku. Aku sedih, aku kecewa aku tidak tahu lagi, pipiku penuhi dengan deraiyan air mata.
Dia hanya membutuhkan bukan menginginkan.
Sabtu sore datang lagi, aku menunggu kabarnya lagi. Aku berharap dia akan menemuiku karena kami sudah dua minggu tidak bertemu. Aku menungguinya sampai aku tertidur.
Aku bangun pagi hari dan melihat hp ku ternyata dia tidak ada menghubungiku. Aku sedih dan aku menangisi lagi.
Mungkin dia sudah lelah, atau sudah tidak ingin lagi bertemu dengan diriku. Padahal aku ingin berbisik padanya "Aku rindu, itu saja". Tapi ya sudahlah, mungkin saja dia memang sibuk dan tidak bisa untuk menjumpai ku saat ini.
Teruntukmu kekasihku, banyak yang ingin ku ceritakan kepadamu. Terutama aku ingin merayakan rindu bersamamu. Jika dirimu tidak ingin lagi menemaniku, tidak apa-apa. Jangan khawatir diriku selalu mendoakanmu.

👏
BalasHapus