Langsung ke konten utama

Cinta terpaksa berakhir

By: Ruthy Shara

Langkah kaki perempuan itu menjauhi membelakangi lelaki tersebut. Saat hujan malam hari itu, perempuan tersebut menerobos butiran air yang jatuh menerpanya dan tidak peduli dengan lelaki yang ada di belakangnya.

"Chandraaa,,," teriak lelaki itu.
Tapi perempuan tersebut tetap saja berjalan semakin menjauh tanpa menengok sedikitpun.

"chandraaa,,," teriak lelaki itu sekali lagi. Perempuan itu berhenti untuk beberapa detik, walaupun jarak yang sudah cukup jauh, tapi wanita itu masih mendengar teriakkan nyaringnya. Di tepi taman samping trotoar tersebut hanya ada dua orang di sana. Lampu jalan remang kekuningan menghiasi sedihnya suasana malam itu. Jalan sepi akan kendaraan yang melintas benar-benar sepi.
Sejenak wanita itu meneteskan air mata membasahi pipi yang bercampur hujan. Berharap terhapus bersama air yang turun dari langit, agar tidak menyisakan kesdihan yang mendalam.

Terakhir memandang lelaki tadi berdiri dengan wajah tidak percaya apa yang dikatakan perempuan tersebut. Padahal dia mengatakan yang sejujurnya. Berat memang rasanya tapi dia tidak bisa menghindar.

"Maafkan aku sayang, tapi kita tidak bisa bersama lagi. Aku ingin pergi jauh meninggalkanmu, lebih jauh yang kau kira. Aku takut kau akan kesepian saat sepeninggalanku. Terpaksa aku harus mengatakan kepadamu. Demi baktiku kepada orang tua. Aku harus lanjut sekolah, mungkin kau akan dapat mencari yang lebih baik.
Maafkan aku sayang, kau lelaki paling istimewa sepanjang hidupku."

Lalu sekejap wanita itu mengusap air mata yang bercampur hujan di matanya dan pergi tanpa permisi dengan sedikit berlari meninggalkan lelaki yang masih dalam terpaku tanpa senyuman.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ungkapan rasa untuk Ayah

By: Ruthy Shara " Selamat malam Ayah Apa kiranya Ayah mengerti apa yang kini tengah membayangi pikiranku akhir-akhir ini? Hal yang membuatku menjadi sulit untuk sekedar memejamkan mata yang membuatku memaksa logika dan hati untuk membantuku menemukan jawabannya. Ku rasa, aku dapat menghitung berapa kali kita berbicara dalam lisan lewat indahnya kata-kata. Berapa kali Ayah memintaku untuk sekedar membantu membersihkan kandang babi. Berapa kali Ayah menyuruhku hanya membuatkanmu kopi panas sembari terbitnya matahari. Berapa kali kita tertawa karena cerita lucu yang aku buat dengan sengaja. Aku bisa Ayah, aku bisa menghitung dengan benar hanya dengan jari tanganku. Oh Tuhan, sedingin itukah kami? Ayah yang tak pandai bersuara lebih memilih diam, tak mudah dengan sengaja mengungkapkan apapun yang sedang Ayah rasakan dan yang sekiranya tengah mengganggu tidurmu. Ayah, sepertinya memang benar. Kalau buah jatuh tak akan pernah jauh dari pohonnya. Aku sama sepertimu, sangat...

Untuk kamu yang memiliki senyum manis

By: Ruthy Shara Kepada kamu, yang pertama kalinya kita bertemu. Surat ini adalah surat pertama yang ku tulis untukmu. Bukan untuk membuatmu menoleh padaku, hanya untuk pelipur gelisah. Surat ini adalah yang ku tulis diam-diam dan aku yakin kamu tak akan pernah membacanya. Masih lekat dalam ingatanku pertemuan pertama kita di pustu Oepoi. Bahkan lekuk senyummu masih terekam jelas. Adalah sesuatu yang patut di sayangkan jika aku melewatkan senyum itu. Perjumpaan kita bukanlah hal yang sering terjadi. Sapaan yang kau lontarkan ditambah senyum yang kau ukir juga bukan hal yang setiap hari ku temui. Kata "Kaka" nampak terasa lebih istimewa jika itu berasal darimu. Mungkin aku terlalu berlebihan, tapi perjumpaan kita adalah suatu kebijakan semesta yang patut disyukuri. Kamu tahu benar, selama ini tak ada satupun dari kita yang bisa benar-benar memulai pembicaraan. Kita hanya saling diam dan saling melemparkan pandangan. Lalu kamu dengan mudahnya melemparkan senyum yang ...

Cintaku Untuk Nagekeo

By: Ruthy Shara Nagekeo, aku datang lagi Menyapamu dengan sepenuh hati Andai aku tahu, Nagekeo Betapa aku jatuh cinta Bahakan sejak pertama kali kita berjumpa. Nagekeo, jangan kau tanya kenapa karena aku tidak tahu Yang ku tahu hanyalah kesederhanaanmu, keramahanmu, kehangatanmu sekaligus ketegaranmu. Padang Sabana dan kumpulan domba-domba hanyalah sebagian alasan aku mencintaimu Begitu juga dengan tumpukkan bukit menjulang dan pantai-pantai panjang menghampar. Namun ku akui, aku tak mampu enyahkan bayangan bupu ga'e dan ema Ka'e dengan sirih pinang Dan anak-anak itu yang menerjang bukit dan belantara Karena hanya untuk menjumpai guru-guru mereka. Guru-guru mereka yang sejuknya seperti air bening penghilang dahaga Yang kemampuan membawa kuas untuk melukis jiwa dan pelangi penuh warna. Namun sekali lagi, semuanya itu hanyalah sebagian alasan kenapa aku mencintaimu. Selebihnya aku tahu Nagekeo, aku hanya ingin kau paham betapa ku cinta kau apa adanya B...