Langsung ke konten utama

Antara kerinduan dan harapan

By: Ruthy Shara

Malam kian larut. Kesunyian semakin mencengkram. Tapi mataku enggan terpejam dan lamunanku tersentak kala kudengar bunyi jam dinding di sudut kamarku berdetak seolah memberikan isyarat bahwa aku harus segera tidur. Kurebahkan tubuhku, kutarik selimut, kucoba untuk menutup mata.
Tapi ah,, aku tak bisa. Entah apa yang sedang aku pikirkan, aku sendiri tak mengerti segala rasa yang datang menghampiri seakan terus menyapaku dalam setiap waktu. Dalam diam kucoba bertanya dalam hati. "inikah yang kurasakan?"
Ya kutelah menemukannya.
Sebersit rasa rindu yang selalu hadir dalam setiap kesendirianku. Rindu pada sosok yang telah bertahun-tahun lamanya tak aku jumpai.
"Dimanakah dia? Itulah pertanyaan yang selalu hadir dalam pikiranku. Tak kala kuingat kembali saat kita terakhir bersua untuk saling memandang dan saling berjabat. Perlahan suara terdengar datar penuh harap dan cemas serta sejuta rasa berkecamuk. Akankah sua itu bisa terulang kembali?
Ya Tuhan, gejolak hati yang teramat dahsyat menggelora dalam dada seakan tak mampu kubendung. Hanya air mata berderai membasahi di setiap sudut keningku sehingga wakil dari duka hatiku. Satu harapan agar bisa saling menjaga. Aku tahu mungkinkah ini hanyalah harapan semata. Karena kita terpisah oleh jarak dan waktu. Kucoba bertahan dalam penantinku. Menanti penuh harap kau kembali. Namun kesadaran bahwa harapan tak selamanya menjadi kenyataan. Karena ku tahu harapan tak selamanya bersatu. Maafkan aku....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ungkapan rasa untuk Ayah

By: Ruthy Shara " Selamat malam Ayah Apa kiranya Ayah mengerti apa yang kini tengah membayangi pikiranku akhir-akhir ini? Hal yang membuatku menjadi sulit untuk sekedar memejamkan mata yang membuatku memaksa logika dan hati untuk membantuku menemukan jawabannya. Ku rasa, aku dapat menghitung berapa kali kita berbicara dalam lisan lewat indahnya kata-kata. Berapa kali Ayah memintaku untuk sekedar membantu membersihkan kandang babi. Berapa kali Ayah menyuruhku hanya membuatkanmu kopi panas sembari terbitnya matahari. Berapa kali kita tertawa karena cerita lucu yang aku buat dengan sengaja. Aku bisa Ayah, aku bisa menghitung dengan benar hanya dengan jari tanganku. Oh Tuhan, sedingin itukah kami? Ayah yang tak pandai bersuara lebih memilih diam, tak mudah dengan sengaja mengungkapkan apapun yang sedang Ayah rasakan dan yang sekiranya tengah mengganggu tidurmu. Ayah, sepertinya memang benar. Kalau buah jatuh tak akan pernah jauh dari pohonnya. Aku sama sepertimu, sangat...

Untuk kamu yang memiliki senyum manis

By: Ruthy Shara Kepada kamu, yang pertama kalinya kita bertemu. Surat ini adalah surat pertama yang ku tulis untukmu. Bukan untuk membuatmu menoleh padaku, hanya untuk pelipur gelisah. Surat ini adalah yang ku tulis diam-diam dan aku yakin kamu tak akan pernah membacanya. Masih lekat dalam ingatanku pertemuan pertama kita di pustu Oepoi. Bahkan lekuk senyummu masih terekam jelas. Adalah sesuatu yang patut di sayangkan jika aku melewatkan senyum itu. Perjumpaan kita bukanlah hal yang sering terjadi. Sapaan yang kau lontarkan ditambah senyum yang kau ukir juga bukan hal yang setiap hari ku temui. Kata "Kaka" nampak terasa lebih istimewa jika itu berasal darimu. Mungkin aku terlalu berlebihan, tapi perjumpaan kita adalah suatu kebijakan semesta yang patut disyukuri. Kamu tahu benar, selama ini tak ada satupun dari kita yang bisa benar-benar memulai pembicaraan. Kita hanya saling diam dan saling melemparkan pandangan. Lalu kamu dengan mudahnya melemparkan senyum yang ...

Cintaku Untuk Nagekeo

By: Ruthy Shara Nagekeo, aku datang lagi Menyapamu dengan sepenuh hati Andai aku tahu, Nagekeo Betapa aku jatuh cinta Bahakan sejak pertama kali kita berjumpa. Nagekeo, jangan kau tanya kenapa karena aku tidak tahu Yang ku tahu hanyalah kesederhanaanmu, keramahanmu, kehangatanmu sekaligus ketegaranmu. Padang Sabana dan kumpulan domba-domba hanyalah sebagian alasan aku mencintaimu Begitu juga dengan tumpukkan bukit menjulang dan pantai-pantai panjang menghampar. Namun ku akui, aku tak mampu enyahkan bayangan bupu ga'e dan ema Ka'e dengan sirih pinang Dan anak-anak itu yang menerjang bukit dan belantara Karena hanya untuk menjumpai guru-guru mereka. Guru-guru mereka yang sejuknya seperti air bening penghilang dahaga Yang kemampuan membawa kuas untuk melukis jiwa dan pelangi penuh warna. Namun sekali lagi, semuanya itu hanyalah sebagian alasan kenapa aku mencintaimu. Selebihnya aku tahu Nagekeo, aku hanya ingin kau paham betapa ku cinta kau apa adanya B...