Langsung ke konten utama

Ungkapan rasa untuk Ayah

By: Ruthy Shara

" Selamat malam Ayah
Apa kiranya Ayah mengerti apa yang kini tengah membayangi pikiranku akhir-akhir ini?
Hal yang membuatku menjadi sulit untuk sekedar memejamkan mata yang membuatku memaksa logika dan hati untuk membantuku menemukan jawabannya.
Ku rasa, aku dapat menghitung berapa kali kita berbicara dalam lisan lewat indahnya kata-kata.
Berapa kali Ayah memintaku untuk sekedar membantu membersihkan kandang babi.
Berapa kali Ayah menyuruhku hanya membuatkanmu kopi panas sembari terbitnya matahari.
Berapa kali kita tertawa karena cerita lucu yang aku buat dengan sengaja.

Aku bisa Ayah, aku bisa menghitung dengan benar hanya dengan jari tanganku.
Oh Tuhan, sedingin itukah kami?
Ayah yang tak pandai bersuara lebih memilih diam, tak mudah dengan sengaja mengungkapkan apapun yang sedang Ayah rasakan dan yang sekiranya tengah mengganggu tidurmu.
Ayah, sepertinya memang benar. Kalau buah jatuh tak akan pernah jauh dari pohonnya. Aku sama sepertimu, sangat sulit untukku merangkaikan kata dalam suara. Sangat jarang pula aku bertemu dengan senyum lebarmu itu. Apa mungkin Ayah lebih memilih sengaja untuk diam?

Mataku berkaca-kaca hingga sampai akhirnya menjatuhkan airnya tanpa ku minta saat teringat.
Sejahat itukah aku yang tak mau mengerti pengorbanan yang teramat besar selama ini?
Setelah bertahun lamanya, mengapa saat ini aku baru sempat memikirkannya dan menganggap semua baik-baik saja?
Ku rasa maaf sajapun tak akan mampu menghapus rasa salahku pada Ayah.
Aku tau tak selamanya ucapan dan kata-kata adalah prioritas utama, karena sajatinya tindakanlah yang paling nyata.

Ayah memberikan sesuatu yang memang aku inginkan, namun tanpa pernah ku minta padamu dengan suara. Ayah tak pernah dengan sengaja memaksaku untuk melakukan hal yang memang tak pernah aku suka. Aku tau, Ayah tak pernah diam dengan Tuhan untuk selalu menyempatkan doa sesuai sujudmu. Namun terkadang aku pun tak menyadarinya. Mungkin Ayah mendengar kata-kata dalam hatiku dengan jelasnya atau memang Ayah tau, tapi lebih untuk tak bersuara?
Ayah, untuk sekedar menanyakan hal itu padamu, aku rasa aku tak bisa dengan mudah melakukannya.

Maafkan aku sebagai anakmu yang selama ini mungkin hanya bisa memberimu rasa kecewa.
Maafkan aku atas semua kesalahan, keegoisan bahakan terkadang ketidak pedulian selama ini.
Maafkan aku sebagai anakmu yang hanya bisa mengungkapkan kata maaf dan itupun aku tak mampu menghapus semua hal yang pernah aku lakukan.
Terima kasih untuk kasih sayang dan cinta yang tak pernah berkurang, meski aku tak begitu menyadarinya.
Aku tak akan pernah lupa untuk lantunkan doa untukmu.
Aku menyayangimu Ayah, laki-laki terhebat yang Tuhan hadirkan dalam hidupku.
Aku telah belajar banyak hal dari satu kata yang bernama "Diam".
Sehat terus ya Ayah, tetap temani Ibu, aku dan lima lagi anakmu.
Dariku yang tak bisa merangkaikan kata dalam suara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk kamu yang memiliki senyum manis

By: Ruthy Shara Kepada kamu, yang pertama kalinya kita bertemu. Surat ini adalah surat pertama yang ku tulis untukmu. Bukan untuk membuatmu menoleh padaku, hanya untuk pelipur gelisah. Surat ini adalah yang ku tulis diam-diam dan aku yakin kamu tak akan pernah membacanya. Masih lekat dalam ingatanku pertemuan pertama kita di pustu Oepoi. Bahkan lekuk senyummu masih terekam jelas. Adalah sesuatu yang patut di sayangkan jika aku melewatkan senyum itu. Perjumpaan kita bukanlah hal yang sering terjadi. Sapaan yang kau lontarkan ditambah senyum yang kau ukir juga bukan hal yang setiap hari ku temui. Kata "Kaka" nampak terasa lebih istimewa jika itu berasal darimu. Mungkin aku terlalu berlebihan, tapi perjumpaan kita adalah suatu kebijakan semesta yang patut disyukuri. Kamu tahu benar, selama ini tak ada satupun dari kita yang bisa benar-benar memulai pembicaraan. Kita hanya saling diam dan saling melemparkan pandangan. Lalu kamu dengan mudahnya melemparkan senyum yang ...

Separuh jiwaku di bu'e Gelu

By: Ruthy Shara Namamu masih tersimpan di galaksi hati ini Tersimpan di antara semesta jiwa Kian melekat terpampang erat Sepanjang jalan kenangan yang ku lalui Ku rasakan hadirmu masih menyertai. Jika ku mendengar suara lubuk hati yang terdalam Sejujurnya ku akui Aku masih menyimpan rasa Meski kini kau telah berdua Hati dan perasaan masih sama Tak akan memudar terhapus masa Walau kita tak lagi bersama. Selalu bayangmu tersimpan dalam jiwa Meski kini semua telah berbeda Saat di mana telah pergi Tak akan ku biarkan rasa ini mati Biarkan terus bersandar di hati Walau hanya dapat ku memiliki dalam mimpi. Biarkan aku selalu tersesat dalam ilusi Karena cinta tak selalu harus memiliki.