By: Ruthy Shara
Pagi merambat pada jendela kamar
Menyentuh halus dilelap mata yang masih bengkak
Weker hanya diam, dia tahu mata tak ingin bangun
Belum cukup semalam termenung.
Selama bantal masih setia temani mimpi indah
Telinganya tak rela mendengarkan jeritan luka
Entah buta atau kenapa, matanya tak melihat mendung
Mungkin lupa ini minggu.
Haruskah ucapkan pada hari untuk memeluknya
Matahari pagi nan terik
Seakan menertawakan yang masih pada mimpinya
Bangunkan tubuh berbaring di balik selimut.
Bubar segala hayalan
Musnah segala harapan
Hanya hari yang sendiri dengan luka belum terobat
Mata yang masih bengkak di temani mimpi indah
Semangat pagi Minggu.
Pagi merambat pada jendela kamar
Menyentuh halus dilelap mata yang masih bengkak
Weker hanya diam, dia tahu mata tak ingin bangun
Belum cukup semalam termenung.
Selama bantal masih setia temani mimpi indah
Telinganya tak rela mendengarkan jeritan luka
Entah buta atau kenapa, matanya tak melihat mendung
Mungkin lupa ini minggu.
Haruskah ucapkan pada hari untuk memeluknya
Matahari pagi nan terik
Seakan menertawakan yang masih pada mimpinya
Bangunkan tubuh berbaring di balik selimut.
Bubar segala hayalan
Musnah segala harapan
Hanya hari yang sendiri dengan luka belum terobat
Mata yang masih bengkak di temani mimpi indah
Semangat pagi Minggu.

Komentar
Posting Komentar