By: Ruthy Shara
Kepada kamu, yang pertama kalinya kita bertemu.
Surat ini adalah surat pertama yang ku tulis untukmu. Bukan untuk membuatmu menoleh padaku, hanya untuk pelipur gelisah. Surat ini adalah yang ku tulis diam-diam dan aku yakin kamu tak akan pernah membacanya.
Masih lekat dalam ingatanku pertemuan pertama kita di pustu Oepoi. Bahkan lekuk senyummu masih terekam jelas. Adalah sesuatu yang patut di sayangkan jika aku melewatkan senyum itu.
Perjumpaan kita bukanlah hal yang sering terjadi. Sapaan yang kau lontarkan ditambah senyum yang kau ukir juga bukan hal yang setiap hari ku temui. Kata "Kaka" nampak terasa lebih istimewa jika itu berasal darimu. Mungkin aku terlalu berlebihan, tapi perjumpaan kita adalah suatu kebijakan semesta yang patut disyukuri.
Kamu tahu benar, selama ini tak ada satupun dari kita yang bisa benar-benar memulai pembicaraan.
Kita hanya saling diam dan saling melemparkan pandangan. Lalu kamu dengan mudahnya melemparkan senyum yang menawan itu.
Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan senyummu, selain menemani senyum yang paling manis
Ya hanya itu..
Bagiku, kita adalah maya dan senyummu adalah segala hal yang angan belaka. Seharusnya aku menyadari bahwa batas itu ada. Bukan hanya tentang pesona namun juga rasa.
Aku tak ingin diam, namun melihatmu tak bergeming memaksaku untuk tetap berdiri pada porosku dan aku tak ingin mati rasa.
Tapi pengabaianmu membuat tersiksa ketika aku memaksa.
Untukmu..
Perempuan yang tersisipkan namanya dalam doa.
Aku meyakinkan diri untuk menunggu membiarkan semua menjadi kisah yang ditentukan waktu. Membiarkan namamu mengisi pikiranku. Lalu perlahan mulai diam-diam mendoakanmu.
Saat ini, aku berharap bisa membekukan waktu agar bisa mengabadikan senyummu.
Kepada kamu, yang pertama kalinya kita bertemu.
Surat ini adalah surat pertama yang ku tulis untukmu. Bukan untuk membuatmu menoleh padaku, hanya untuk pelipur gelisah. Surat ini adalah yang ku tulis diam-diam dan aku yakin kamu tak akan pernah membacanya.
Masih lekat dalam ingatanku pertemuan pertama kita di pustu Oepoi. Bahkan lekuk senyummu masih terekam jelas. Adalah sesuatu yang patut di sayangkan jika aku melewatkan senyum itu.
Perjumpaan kita bukanlah hal yang sering terjadi. Sapaan yang kau lontarkan ditambah senyum yang kau ukir juga bukan hal yang setiap hari ku temui. Kata "Kaka" nampak terasa lebih istimewa jika itu berasal darimu. Mungkin aku terlalu berlebihan, tapi perjumpaan kita adalah suatu kebijakan semesta yang patut disyukuri.
Kamu tahu benar, selama ini tak ada satupun dari kita yang bisa benar-benar memulai pembicaraan.
Kita hanya saling diam dan saling melemparkan pandangan. Lalu kamu dengan mudahnya melemparkan senyum yang menawan itu.
Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan senyummu, selain menemani senyum yang paling manis
Ya hanya itu..
Bagiku, kita adalah maya dan senyummu adalah segala hal yang angan belaka. Seharusnya aku menyadari bahwa batas itu ada. Bukan hanya tentang pesona namun juga rasa.
Aku tak ingin diam, namun melihatmu tak bergeming memaksaku untuk tetap berdiri pada porosku dan aku tak ingin mati rasa.
Tapi pengabaianmu membuat tersiksa ketika aku memaksa.
Untukmu..
Perempuan yang tersisipkan namanya dalam doa.
Aku meyakinkan diri untuk menunggu membiarkan semua menjadi kisah yang ditentukan waktu. Membiarkan namamu mengisi pikiranku. Lalu perlahan mulai diam-diam mendoakanmu.
Saat ini, aku berharap bisa membekukan waktu agar bisa mengabadikan senyummu.

mkasih kaka,,saya sangat menyukainya😍😍
BalasHapusPenulis kisah yang mengharukan
BalasHapus