By: Ruthy Shara
Di kota Kupang ini mengawali langkahku untuk hidup jauh dari orang yang paling aku cinta dan aku sayangi orang tua. Meninggalkan mereka begitu berat dan begitu pun denganku, apakah aku bisa bertahan tanpa bimbingan, kasih sayang dan perhatian dari mereka.
Berpikir sebelum bertindak sudah menjadi kebiasaanku. Ketika memutuskan untuk pergi dan mengawali perjalanan hidupku untuk beberapa tahun ke depan. Tinggal di kota Kupang ini. Aku selalu meminta pendapat dari orang tua, keluarga dan beberapa teman karibku. Ucapan selamat dan kebanyakan mereka bilang setuju untuk pergi ke kota Kupang ini. Tapi hanya seseorang yang tidak setuju untuk aku pergi ke sana, ibuku tidak menyetujui untuk aku pergi ke sana. Dengan pelukan hangat dan tangis air mata beliau bilang "Nak jangan pergi, kamu anak satu-satunya kami. Kalau kamu pergi kami akan kesepian dan siapa yang akan membantu kami dan kamu dengan sabarnya selalu menuruti perintah kami. Ibu mohon nak, jangan pergi". Saat ku tatap wajah ibu, beliau begitu penuh kehwatiran tidak mau aku pergi meninggalkannya. Kutundukan kepalaku dan merenung sampai kemudian ayahku datang menghampiri ibuku dan menenangkan hati ibuku sambil diajak bicara. Entah apa yang mereka bicarakan, aku hanya duduk diam dan menenangkan apakah aku harus mengurung waktu untuk pergi ke sana. Tak lama kemudian ibu dan ayah menghampiriku, mereka memeluk erat dan ibu penuh dengan tangisannya sambil bilang "Nak, setelah ayahmu menenangkan hati ibu yang penuh dengan kehwatiran tidak mau kamu kenapa-kenapa bila pergi ke sana dan kami berdiskusi. Ibu sekarang setuju bila kamu benar-benar sudah bulat dengan keputusanmu untuk pergi ke Kupang itu". Ibu terus menangis dan memelukku penuh erat. Aku merasakan kehwatiran dan keberatan ibuku untuk aku mencoba merantau ke sana, aku pun menangis sambil bilang "Terima kasih ibu, sudah mengijinkanku pergi ke kota Kupang untuk menuntut ilmu, mencari pengelaman serta berkompetitif untuk mendapatkan hasil yang bagus dan maksimal". Setelah keharuan itu aku pergi ke kamar untuk membereskan dan menyiapkan barang-barang yang perlu aku bawa. Tak lupa aku membuat sebuah surat untuk seseorang yang ingin aku jadikan pendamping dalam hidupku, inti dari surat itu bahwa " Maafkan aku meninggalkan kamu sementara, semoga kamu mengerti dan memakluminya. Hatiku sudah memilih kamu dan yakin bersamamu, tunggu aku ya bila kamu juga serius dan yakin denganku. Tapi jangan menunggu aku, bila aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Rencana Tuhan siapa tahu, semoga Tuhan memberikan yang terbaik dan kita selalu dalam lindungannya".
Sangat berat juga bagiku untuk meninggalkan dia. Tetapi juga aku harus mewujudkan mimpi yang selama ini tertunda. Aku ingin menjadi mahasiswa yang berprestasi dan mendapatkan kepercayaan sehingga ketika sudah pulang lagi ke kampung halamanku, aku ingin mengamalkan ilmuku dengan menjadi seorang guru dan ilmuwan untuk membantu permasalahan - permasalahan yang ada di sekitar kampungku.
Keesokan harinya ayahku memberikan tiket pesawat yang menuju ke kota Kupang. Aku pun sangat senang, dibalik kesenangan itu ada kesedihan yang mendalam. Tapi kesedihan yang mendalam itu harus aku tebus kembali dengan ketika aku pulang lagi ke kampung halamanku, aku sudah menjadi orang yang sukses dan banyak membantu orang-orang yang berbeda di kampung halamanku
Waktu pemberangkatan pesawat pun sudah tiba, pelukan yang mendalam dari orang tua akan selalu ku ingat terus disaat aku menjalani hidup mandiri di sana. Lembayan tangan dan tangisan mewarnai suasana waktu itu.
"Maaf semuanya, akun harus pergi" itulah kata-kata terakhir yang aku ucapkan saat meninggalkan kampung halamanku.
------
Di kota Kupang ini mengawali langkahku untuk hidup jauh dari orang yang paling aku cinta dan aku sayangi orang tua. Meninggalkan mereka begitu berat dan begitu pun denganku, apakah aku bisa bertahan tanpa bimbingan, kasih sayang dan perhatian dari mereka.
Berpikir sebelum bertindak sudah menjadi kebiasaanku. Ketika memutuskan untuk pergi dan mengawali perjalanan hidupku untuk beberapa tahun ke depan. Tinggal di kota Kupang ini. Aku selalu meminta pendapat dari orang tua, keluarga dan beberapa teman karibku. Ucapan selamat dan kebanyakan mereka bilang setuju untuk pergi ke kota Kupang ini. Tapi hanya seseorang yang tidak setuju untuk aku pergi ke sana, ibuku tidak menyetujui untuk aku pergi ke sana. Dengan pelukan hangat dan tangis air mata beliau bilang "Nak jangan pergi, kamu anak satu-satunya kami. Kalau kamu pergi kami akan kesepian dan siapa yang akan membantu kami dan kamu dengan sabarnya selalu menuruti perintah kami. Ibu mohon nak, jangan pergi". Saat ku tatap wajah ibu, beliau begitu penuh kehwatiran tidak mau aku pergi meninggalkannya. Kutundukan kepalaku dan merenung sampai kemudian ayahku datang menghampiri ibuku dan menenangkan hati ibuku sambil diajak bicara. Entah apa yang mereka bicarakan, aku hanya duduk diam dan menenangkan apakah aku harus mengurung waktu untuk pergi ke sana. Tak lama kemudian ibu dan ayah menghampiriku, mereka memeluk erat dan ibu penuh dengan tangisannya sambil bilang "Nak, setelah ayahmu menenangkan hati ibu yang penuh dengan kehwatiran tidak mau kamu kenapa-kenapa bila pergi ke sana dan kami berdiskusi. Ibu sekarang setuju bila kamu benar-benar sudah bulat dengan keputusanmu untuk pergi ke Kupang itu". Ibu terus menangis dan memelukku penuh erat. Aku merasakan kehwatiran dan keberatan ibuku untuk aku mencoba merantau ke sana, aku pun menangis sambil bilang "Terima kasih ibu, sudah mengijinkanku pergi ke kota Kupang untuk menuntut ilmu, mencari pengelaman serta berkompetitif untuk mendapatkan hasil yang bagus dan maksimal". Setelah keharuan itu aku pergi ke kamar untuk membereskan dan menyiapkan barang-barang yang perlu aku bawa. Tak lupa aku membuat sebuah surat untuk seseorang yang ingin aku jadikan pendamping dalam hidupku, inti dari surat itu bahwa " Maafkan aku meninggalkan kamu sementara, semoga kamu mengerti dan memakluminya. Hatiku sudah memilih kamu dan yakin bersamamu, tunggu aku ya bila kamu juga serius dan yakin denganku. Tapi jangan menunggu aku, bila aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Rencana Tuhan siapa tahu, semoga Tuhan memberikan yang terbaik dan kita selalu dalam lindungannya".
Sangat berat juga bagiku untuk meninggalkan dia. Tetapi juga aku harus mewujudkan mimpi yang selama ini tertunda. Aku ingin menjadi mahasiswa yang berprestasi dan mendapatkan kepercayaan sehingga ketika sudah pulang lagi ke kampung halamanku, aku ingin mengamalkan ilmuku dengan menjadi seorang guru dan ilmuwan untuk membantu permasalahan - permasalahan yang ada di sekitar kampungku.
Keesokan harinya ayahku memberikan tiket pesawat yang menuju ke kota Kupang. Aku pun sangat senang, dibalik kesenangan itu ada kesedihan yang mendalam. Tapi kesedihan yang mendalam itu harus aku tebus kembali dengan ketika aku pulang lagi ke kampung halamanku, aku sudah menjadi orang yang sukses dan banyak membantu orang-orang yang berbeda di kampung halamanku
Waktu pemberangkatan pesawat pun sudah tiba, pelukan yang mendalam dari orang tua akan selalu ku ingat terus disaat aku menjalani hidup mandiri di sana. Lembayan tangan dan tangisan mewarnai suasana waktu itu.
"Maaf semuanya, akun harus pergi" itulah kata-kata terakhir yang aku ucapkan saat meninggalkan kampung halamanku.
------

Salam. Saya baru pertama kali bertandang ke blog ini. Semangat terus yah dalam menulis. Dikunjung balik ke blog sya juga, karena #MembacaItuAsyik.
BalasHapusSalam kk
BalasHapusTerima kasih banyak kk sudah kunjung ke blog saya. Ok nanti saya datang kunjung kk punya blog ew🙏