By: Ruthy Shara
Dua tahun yang lalu
Di sudut kota kecil
Ku sapa Mathilda dengan bahasa semesta.
Malam ini..
Meski musim telah berganti kulit
Masih tetap ku kenal wajahnya
Bahakan bekas luka di keningnya masih terlihat jelas.
Kini..
Lewat celah mimpi yang suram
Aku kembali ke Mauponggo
Menyusuri lereng-lereng bukit Wolosambi yang indah
Ku cari jejak-jejak rasa yang pernah ada
Ke sawah-sawah Mau keo yang hijau
Ku titipkan rinduku pada padi muda berseri
Pada air kali Mau wayu yang jernih
Ku tanyakan kisahku yang pernah mengalir
Di sepanjang pasir putih Ena gera
Ku tulis nama dengan aksara surga
Pada puncak gunung Ebu lobo
Ku teriak kepada langit agar membawamu kembali.
Akhirnya..
Di pintu masuk kampung Maukeli
Ku baca beribu-ribu harapan
Tepat di depanku
Telah ku temukan dirinya
Gereja St. Michael Maukeli penuh kemegahan.
Dua tahun yang lalu
Di sudut kota kecil
Ku sapa Mathilda dengan bahasa semesta.
Malam ini..
Meski musim telah berganti kulit
Masih tetap ku kenal wajahnya
Bahakan bekas luka di keningnya masih terlihat jelas.
Kini..
Lewat celah mimpi yang suram
Aku kembali ke Mauponggo
Menyusuri lereng-lereng bukit Wolosambi yang indah
Ku cari jejak-jejak rasa yang pernah ada
Ke sawah-sawah Mau keo yang hijau
Ku titipkan rinduku pada padi muda berseri
Pada air kali Mau wayu yang jernih
Ku tanyakan kisahku yang pernah mengalir
Di sepanjang pasir putih Ena gera
Ku tulis nama dengan aksara surga
Pada puncak gunung Ebu lobo
Ku teriak kepada langit agar membawamu kembali.
Akhirnya..
Di pintu masuk kampung Maukeli
Ku baca beribu-ribu harapan
Tepat di depanku
Telah ku temukan dirinya
Gereja St. Michael Maukeli penuh kemegahan.

Apabila puisi selalu diisi oleh rasa, pasti selalu indahπππ
BalasHapusMantap
Terima kasih banyak ew
BalasHapusSudah sering2 baca puisi sya.
GBU π
Itu bukan Mauponggo tapi Tonggo
BalasHapus