Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2020

Mauponggo tanah kelahiranku

By: Ruthy Shara Selamat datang di tanah kelahiranku Yang di himpun bukit-bukit yang indah saat di pandang kasat mata Dan aroma bunga cengkeh sepanjang jalan. Tanah kelahiranku Tanah tumpah darahku Di kota kecil yang indah Sekalipun kami beranjak pergi Namun tanah Mauponggo tempat yang terindah dan paling dirindukan. Tanahku Mauponggo Hamparan sawah luas membentang di sana Lekap padi tua berdiri merunduk Suara gesekan pohon bambu berdering. Tanahku Mauponggo Yang tak akan pernah kalah terkenal dengan yang lain Pada waktu yang akan datang Kami akan merindukan itu Sejauh manapun kami pergi Sebanyak apapun kami melangkahkan kaki Kami tak pernah bisa berdiam diri Selalu menyisipkan waktu untuk kembali Sekedar bercerita dan berbagai Tak peduli senang ataupun sedih Setidaknya dapat mengusir perih di dada ini. Sesekali mari menginjak kaki di tanah kelahiranku, Mauponggo Dan duduklah sambil minum kopi Flores yang di seduh nona manis Mauponggo Dan aku hanya ingin...

Adik bungsuku

By: Ruthy Shara Engkau adalah seorang perempuan yang harus hidup dalam rusaknya zaman Generasi yang mulai hilang harga diri dengan bayangan surga palsu. Wahai adik perempuanku Ini adalah  zaman kakak berpijak Moral yang kini telah rusak Sedangkan engkau kini masih dalam timbangan ibunda. Wahai adik perempuanku Tantanganmu akan semakin berat Jagalah diri agar tak tersesat Jika kelak nanti engkau remaja Jadilah wanita yang tegas menghadapi dunia Jawablah semua tantangan zaman dengan berkat ketakwaan dan iman Jangan pernah malu kepada mereka Walaupun mungkin mereka bilang engkau berbeda. Ingat pesanku Ingat nasihatku Ku titipkan pesan ini lewat dunia maya Berharap suatu saat engkau membacanya.

Fany, Rintihan Pilu

By: Ruthy Shara Fany Demikian sapaan manjanya Lembaran hidupnya kian hari kian ringkih Ia menangis seorang diri Mengadu pilu pada pusara ibunya. Saat senja letih di atas pangkuan kasih tak bertuan Setidaknya ia sedang rindu akan kasih seorang ibu Sejenak menoreh kisah, ibunya gegas pulang Pulang saat usianya balita. Rintihan pilu menderu Tangisan memecah heningnya pada salib bisu yang tertanam dekat pusara ibunya. Saat kata tak lagi bersuara Untuk membendung segala kerinduannya Larik majas bertatih-tatih dari mulutnya yang gusar Mohon, agar ibunya mendapat surga tempat yang selayaknya.

Ke Bukit Wolobobo, Sayang

By: Ruthy Shara Kapan-kapan ku ajak engkau ke sini, sayang Ke bukit ini, bukit Wolobobo Pas-pasan parasnya kalau tidak disebut buruk rupa Tapi ku jamin bakal tersiksa oleh sebuah rasa Yang engkau pahami itu adalah rasa yang tak nyeri. Ke sinilah sayang, duduk bersamaku Engkau dan aku menikmati cinta dalam keindahan sebenar-benarnya Dalam sebuah rentang jarak kehidupan bagai berada di luar bumi Jiwamu dan jiwaku dielus-elus oleh tangan Tuhan. Bukit ini buruk rupa Kabut dan dingin menerpa tubuh Tapi memberi kita nyawa untuk sejenak istrahat Sambil berpasrah dari pada kelam yang jauh dan pada luka yang pilu Dalam hati yang tercabik-cabik oleh pergulatan selama perjalanan di dunia ini. Di atas bukit ini Senja membayu dalam roh rekonsiliasi Damai di langit merembes ke bumi merasuki hati. Kesinilah sayang, ke bukit ini Menghela nafas melepas lelah Meredakan dendam-dendam masa lalu Walaupun hari-hari yang panjang berliku-liku Dalam Kilauan senja mencumbu malam En...

Separuh jiwaku di bu'e Gelu

By: Ruthy Shara Namamu masih tersimpan di galaksi hati ini Tersimpan di antara semesta jiwa Kian melekat terpampang erat Sepanjang jalan kenangan yang ku lalui Ku rasakan hadirmu masih menyertai. Jika ku mendengar suara lubuk hati yang terdalam Sejujurnya ku akui Aku masih menyimpan rasa Meski kini kau telah berdua Hati dan perasaan masih sama Tak akan memudar terhapus masa Walau kita tak lagi bersama. Selalu bayangmu tersimpan dalam jiwa Meski kini semua telah berbeda Saat di mana telah pergi Tak akan ku biarkan rasa ini mati Biarkan terus bersandar di hati Walau hanya dapat ku memiliki dalam mimpi. Biarkan aku selalu tersesat dalam ilusi Karena cinta tak selalu harus memiliki.

Cintaku Untuk Nagekeo

By: Ruthy Shara Nagekeo, aku datang lagi Menyapamu dengan sepenuh hati Andai aku tahu, Nagekeo Betapa aku jatuh cinta Bahakan sejak pertama kali kita berjumpa. Nagekeo, jangan kau tanya kenapa karena aku tidak tahu Yang ku tahu hanyalah kesederhanaanmu, keramahanmu, kehangatanmu sekaligus ketegaranmu. Padang Sabana dan kumpulan domba-domba hanyalah sebagian alasan aku mencintaimu Begitu juga dengan tumpukkan bukit menjulang dan pantai-pantai panjang menghampar. Namun ku akui, aku tak mampu enyahkan bayangan bupu ga'e dan ema Ka'e dengan sirih pinang Dan anak-anak itu yang menerjang bukit dan belantara Karena hanya untuk menjumpai guru-guru mereka. Guru-guru mereka yang sejuknya seperti air bening penghilang dahaga Yang kemampuan membawa kuas untuk melukis jiwa dan pelangi penuh warna. Namun sekali lagi, semuanya itu hanyalah sebagian alasan kenapa aku mencintaimu. Selebihnya aku tahu Nagekeo, aku hanya ingin kau paham betapa ku cinta kau apa adanya B...